#Lampung #Siger #Tradisi

Pakaian Adat Lampung: Siger dan Kebesaran Kesultanan

23 January 2026
4 menit baca
735 kata
Bagikan:
Pakaian Adat Lampung: Siger dan Kebesaran Kesultanan

Di ujung selatan Sumatra, masyarakat Lampung hidup dengan semboyan “Sai Bumi Ruwa Jurai”—satu bumi dua jiwa—yang merujuk pada dua kelompok adat besar: Pepadun dan Saibatin (Pesisir). Identitas itu tampak jelas dalam pakaian adat Lampung, terutama pada mahkota siger yang menjulang tinggi di kepala perempuan, melambangkan kemuliaan, kehormatan, dan martabat.

Latar Budaya: Antara Pepadun dan Saibatin

Dalam struktur sosial Lampung, pakaian adat tidak berdiri sendiri—ia melekat dengan sistem adat:

  • Lampung Pepadun
    Umumnya bermukim di pedalaman; kuat dengan tradisi musyawarah adat dan gelar kebangsawanan yang diperoleh melalui prosesi adat.

  • Lampung Saibatin (Pesisir)
    Tinggal di wilayah pesisir; struktur adat lebih hierarkis dengan gelar yang bersifat turun-temurun dari garis bangsawan.

Perbedaan ini tercermin dalam ragam busana dan bentuk siger, namun keduanya tetap berada dalam satu payung budaya Lampung.


Siger: Mahkota Emas Perempuan Lampung

Siger adalah mahkota logam berwarna emas yang dikenakan di kepala perempuan pada upacara adat, terutama pernikahan. Bentuknya segitiga melebar dengan lekukan seperti tanduk yang menjulang ke atas. Beberapa ciri dan makna penting siger:

  • Terbuat dari logam
    Seperti kuningan, tembaga, atau disepuh emas, melambangkan kemewahan dan kebesaran adat.:contentReference[oaicite:3]{index=3}
  • Lekukan (puncak) di bagian atas
    • Siger Pepadun: umumnya sembilan lekukan, melambangkan sembilan marga (Abung Siwo Mego).:contentReference[oaicite:4]{index=4}
    • Siger Saibatin: biasanya tujuh lekukan, terkait jumlah adok atau gelar adat Saibatin.:contentReference[oaicite:5]{index=5}
  • Tanduk melengkung
    Disimbolkan sebagai keagungan, keindahan, keterkaitan dengan alam, serta kekuatan dan keberanian perempuan Lampung dalam menjaga keluarga dan adat.

Tidak heran jika siger kemudian dijadikan simbol resmi identitas daerah Lampung, hadir di logo, tugu, hingga gerbang-gerbang kota.


Busana Adat Perempuan: Tapis, Kawai, dan Aksesorinya

Selain siger, keagungan pakaian adat Lampung terpancar lewat kombinasi baju, kain, dan perhiasan.

1. Kain Tapis

Kain tapis adalah tenun tradisional dengan sulaman benang emas atau perak yang kaya motif geometris dan simbolik—melambangkan kesuburan, kesejahteraan, dan kedudukan sosial. Dahulu, motif tertentu hanya boleh dipakai kalangan bangsawan. Kain ini dililitkan sebagai bawahan dan menjadi elemen yang sangat menonjol dalam busana adat perempuan Lampung.

2. Baju Kawai / Kebaya Adat

Untuk pengantin Pepadun, perempuan memakai baju kebaya atau kawai berwarna putih keemasan atau merah dengan hiasan motif bunga. Untuk Saibatin, busana atasnya bisa berbentuk gaun atau baju bermotif flora dan pucuk rebung, sering dipadukan dengan selempang jungsarat (songket selempang dari bahu ke pinggang).

3. Aksesori Tubuh

Busana adat perempuan Lampung diperkaya dengan berbagai perhiasan:

  • Kalung
    Seperti kakalah bangkang / buah jukun, papan jajar, atau bulan tananggal, masing-masing membawa simbol kemakmuran, kekerabatan, dan harapan hidup yang sejahtera.
  • Bahu dan dada
    Dihiasi unsur seperti bebe, penutup bahu berbentuk daun teratai putih yang disulam halus—melambangkan kesucian dan keanggunan.
  • Gelang
    Jenis gelang burung, gelang kano, gelang ruwi, dan gelang bibit bukan hanya perhiasan, tetapi juga simbol kejayaan dan status sosial.

Rangkaian aksesori ini membuat busana adat Lampung tampak megah dan bertingkat, seolah membangun “lapisan-lapisan kebesaran” di tubuh pemakainya.


Tata Rias Kepala: Sanggul, Bunga, dan Hiasan Pendukung

Di balik siger, rambut perempuan biasanya disanggul:

  • Sanggul malang yang dihias sial kikha,
  • Diselipkan bunga melur dan bunga daun bambu di atas telinga,
  • Dilengkapi hiasan seperti bellatung dan gharu sebagai tusuk sanggul yang menambah kesan anggun.

Kombinasi ini menegaskan bahwa mahkota tidak berdiri sendiri—ia “ditopang” oleh detail-detail kecil yang sarat makna dan estetika.


Busana Adat Pria: Kopiah Emas dan Kain Tapis

Pria Lampung tampil gagah dengan:

  • Kopiah emas sebagai penutup kepala, menandai kehormatan dan kedudukan.
  • Baju lengan panjang atau jas adat dengan warna tegas
  • Kain tapis sebagai bawahan, dipadu dengan sabuk dan perhiasan tertentu sesuai status

Jika siger menjadi mahkota perempuan, kopiah emas dan atribut pria menjadi penanda bahwa laki-laki pun memikul tanggung jawab adat dan keluarga.


Pakaian Adat dalam Upacara dan Kehidupan Sosial

Pakaian adat Lampung, terutama yang lengkap dengan siger, biasanya hadir dalam:

  • Upacara pernikahan adat
    Menandai bersatunya dua keluarga dan marga, bukan hanya dua individu.
  • Upacara adat kebangsawanan dan pemberian gelar
    Busana dan perhiasan mencerminkan tingkat gelar serta kedudukan dalam masyarakat.
  • Perayaan budaya dan acara resmi daerah
    Siger dan tapis tampil sebagai ikon visual Lampung di panggung nasional.

Dalam konteks ini, pakaian adat bukan sekadar busana, tetapi juga bahasa simbolik yang menjelaskan siapa seseorang, dari mana asal marganya, dan apa peran sosialnya.


Fakta Menarik

Berat sebuah siger bisa mencapai beberapa kilogram, sehingga pengantin perempuan perlu latihan dan adaptasi sebelum hari upacara agar bisa berdiri dan bergerak dengan mantap dan anggun sepanjang prosesi.


Pakaian adat Lampung—dengan siger yang menjulang dan tapis yang berkilau—menunjukkan bagaimana busana dapat merangkum cerita tentang kesultanan, martabat, dan identitas. Di setiap lekukan mahkota dan helai benang tapis, ada jejak sejarah panjang masyarakat yang menjunjung tinggi kehormatan dan kebesaran adat.

DAFTAR

Komentar